Kutacane,waspada24.com-Warga yang tinggal di kaki Gunung kini hidup dalam bayang-bayang bencana. Hamparan hutan di Kabupaten Aceh Tenggara , yang dulu hutan terlihat rimbun dan sejuk, kini berubah jadi lahan gundul diduga akibat aktivitas penebang liar yang telah berlangsung lebih dari dua puluh tahun silam.
“Ada ratusan hektare hutan, dan hampir setengahnya sekarang gundul. Diperkirakan lebih dari ribuan batang pohon ditebang, hampir separuhnya itu (gundul), terlihat di gunung lawe kinga,dan hutan simpang semadam, hutan Lawe Dua (Bukit Tusam), hutan lawe sigala itu semua kayu besar habis di libas orang yanh tidak pertanggup jawab.Apabila hujan turun di empat Kecamatan tersebut masyarakat yang tinggal di bawah kaki gunung tidak pernah merasa tenang hidup karna takut banjir.

Contoh kecilnya masyakat yang tinggal di bawah kaki gunung di kecamatan lawe sumur dan Kecamatan Bambel,apabila cuaca terlihat gelap di gunung lawe kinga masyakat buah pala dan masyarakat,kute lesung dan sekitar tidak tenang selalu,karna masyarakat dua kecamatan itu setiap Tahunya di timpa banjir.
Pohon-pohon bernilai tinggi seperti Mangong, Damar, Saninten, Pasah, hingga Puspa ditebang tanpa ampun. Bahkan pohon Pinus dan Damar hasil program penghijauan pun ikut dilibas.

Dampaknya sekarang mulai terasa.Oleh Masyarakat Aceh Tenggara,setiap hujan turun mengeluhkan penurunan debit air dan kualitasnya memburuk.Selalu setiap hujan turun,”Air yang dulu jernih, sekarang cepat keruh, bahkan kalau hujan sebentar. Kolam penampungan juga hanya terisi setengah,” jelas kaduk.
Selain itu, satu tahun lalu, tepatnya 6 Oktober 2024, banjir bandang melanda kawasan buah pala, lawe ijo puluhan Rumah hancur di hantam banjir, dan dampak nya ke desa Kuning I terendam badan jalan sekitar 50 cm sehingga kendaraan susah melintas di Jalan Nasional Kutacane – Medan.
Japar,mengatakan, sungai lawe kinga meluap, membawa lumpur dan batang pohon yang menghantam permukiman. Sungai itu sendiri mempertemukan dua aliran dari lawe kinga.
“Akar-akar pohon yang dulu menahan air sekarang sudah membusuk. Nggak ada lagi yang menahan limpasan air hujan,”jelasnya.
Ironisnya, japar menyebutkan,kawasan hutan ini dulunya rimbang dan saat sekarang ini hujan terlihat sudah gundul mengaakibatkan banjir setiap tahun di wilayajh dua Kecamatan Lawe Sumur dan kecamatan Bambel di Aceh Tenggara.kawasan hutan menjadi lahan kosong yang diduga siap dialihfungsi untuk kepentingan komersial.
“Dulunya tertutup, sekarang terbuka. Sudah ada jalan ke dalam, katanya mau dikomersialkan,” imbuhnya.
Warga yang tinggal di bawah kaki gunung,mangharapkan pada pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Aceh dan Pusat untuk segera turun tangan. “Kami hanya ingin pemerintah provinsi, Kabupaten dan Pusat datang .Melihat langsung bagaimana kondisi kami yang hidup dalam ancaman bencana,” ujar japar.
Laporan(M.Jeni)
Waspada24.com.



































