Kutacane.Waspada24.com- Pekerjaan tambal sulam (patching) pada ruas jalan nasional di Kabupaten Aceh Tenggara batas Sumatera Utara dibawah Satkker PPK35 terkesan asal jadi. Proyek patching sudah diperbaiki dan rusak kembali. Berdasarkan hasil Observasi lapangan Asal jadi. Hal ini akibat lemah pengawasan Kabalai BPJN Aceh.
Anggaran dialokasikan miliaran dari tahun ke tahun jalan Nasional tak tuntas. Jika dihiyung mulai tahun 2023 hingga tahun 2025, kita minta usut dana rutin sumber APBN mencapai belasan miliaran dari anggaran APBN yang sikelola Satker PPK 35 BPJN Aceh.
Saat chek and richek di lapangan, tampak pekerjaan tambal sulam dilakukan terburu-buru dan asal asalan dan menggunakan aspal dingin. Ada beberapa titik, tidak dilakukan pengecatan batas area aspal yang rusak, tidak ada pemotongan serta pembongkaran lapisan lama.
Sehingga kondisi jalan akibat tambal sulam seharusnya rata dengan aspal yang lama padahal baru saja di sulam di tahun 2025 bahkan sekarang terlihat ruas jalan tersebut sudah rusak kembali di Kecamatan Bababussala, Bambel, Semadam, Lawe sigala, Ketambe dan Badar serta Bukit Tusam dan Babul Makmur.
Demikian kata Ketua LP2iM M.Sopyan Desky, SH. kepada Waspada24.com Selasa (21/7) di Kutacane.
Lebih jauh, Sopyan mengambarkan tambal sulam dilakulan BPJN di pusat kota kutacene area di lampu merah, tidak menggunakan Aspal, hanya di cor dengan semen lubang-lubang seolah-olah asal di tutup saja itulah sebabnya besar dugaan perkerjaan asal jadi.
Padahal metode untuk penambalan harus sesuai teknis, diantaranya menandai area jalan yang mengalami retak atau berlubang.Pembersihan dan Mengikis bagian tepi lubang dan membersihkan debu serta kotoran di area kerjaan.
Setelah itu di beri Perekat.Melapisi permukaan lubang dengan cairan pelekat aspal (tack coat) agar ikatan kuat.Penuangan dan pemadatan.
Memasukkan campuran aspal, lalu memadatkannya menggunakan alat pemadat sampai rata dengan permukaan jalan sekitar.Untuk melihat bagaimana proses patching aspal dilakukan secara cepat dan rapi di lapangan itulah semestinya.

Akibatnya, permukaan jalan tampak menggunduk, bergelombang, bertumpuk, dan tidak rata.Selain itu, meskipun di beberapa lokasi dilakukan pemotongan area tambalan, proses pengaspalan tidak disertai pemadatan menggunakan alat tandem roller atau baby roller.Jelas Sopyan dengan wajah serius.
Dugaan area juga tidak dibersihkan dari tanah dan pasir serta tidak dilakukan prime coat. Kondisi ini menyebabkan aspal baru tidak menyatu dengan aspal lama (existing).
Sehingga kualitas jalan semakin menurun dan cepat mengalami kerusakan.
Pada lapisan dasar tambalan, ditemukan penggunaan batu bujang berukuran sekitar 15 x 20 cm secara langsung di bawah lapisan aspal. Cara ini dinilai tidak sesuai prosedur karena mengakibatkan aspal tidak dapat melekat sempurna dan mudah hancur.
Dari sisi ketebalan

Tambal sulam yang semestinya memiliki ketebalan 4–6 cm, di lapangan hanya ditemukan sekitar 2–3 cm. Ketidaksesuaian ini diduga menjadi penyebab tambalan yang dikerjakan pada tahun 2025 sudah mengalami kerusakan kembali.
Diduga material yang digunakan tidak sesuai spesifikasi teknis. Campuran aspal terlihat mengandung banyak agregat kasar berukuran besar, sehingga memengaruhi daya rekat dan ketahanan lapisan permukaan.
Akibat kondisi tersebut, ruas jalan nasional di jalur dua di kota kutacene mengalami kerusakan berupa gelombang, tonjolan, penurunan badan jalan, dan tambalan yang terlupas. Pengguna jalan terpaksa berebut jalur yang relatif masih rata, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.
Pantauan waspada24.com- beberapa minggu yang lalu ada beberapa titik, ditemukan badan jalan sudah di patching di tahun yang silam sekarang kembali lagi rusak dan berlubang.
Tidak ada mutu kwalitas perkerjaan mengakibatkan kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap kenyamanan, keamanan, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Selain persoalan teknis, muncul dugaan adanya penggelembungan volume pekerjaan dalam pelaksana
































