Banda Aceh | Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menyeleksi 53 peserta internasional dari 12 negara dalam tahapan wawancara penerimaan mahasiswa baru internasional jalur reguler tahun 2026.
Seleksi tersebut menjadi bagian dari upaya UIN Ar-Raniry memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari berbagai negara sekaligus memperkuat posisi kampus sebagai perguruan tinggi Islam yang memiliki daya tarik di tingkat internasional.
Ketua Panitia Seleksi sekaligus Direktur Kantor Urusan Internasional (International Office) UIN Ar-Raniry, Prof. Saiful Akmal, mengatakan jumlah negara asal peserta tahun ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jika tahun lalu seleksi diikuti oleh peserta dari enam negara, tahun ini jumlahnya meningkat dua kali lipat menjadi 12 negara,” kata Prof. Saiful Akmal di Banda Aceh, Minggu.
Dari 53 peserta yang mengikuti tahapan wawancara, sebanyak 45 orang merupakan laki-laki dan delapan orang perempuan. Mereka memperebutkan kuota penerimaan sebanyak 53 mahasiswa, yang terdiri atas 50 kuota untuk jenjang sarjana (S1) dan tiga kuota untuk jenjang magister (S2).
Para peserta tersebut sebelumnya telah menyisihkan 112 pendaftar yang mengikuti tahapan seleksi administrasi awal.
Menurut Prof. Saiful, pelaksanaan seleksi internasional tersebut dilakukan dengan memperhatikan perbedaan zona waktu negara asal peserta. Kelancaran proses seleksi tidak terlepas dari kerja sama panitia serta dukungan pimpinan UIN Ar-Raniry.
Peningkatan jumlah peserta internasional dinilai menjadi indikator positif terhadap meningkatnya kepercayaan masyarakat global terhadap kualitas pendidikan yang ditawarkan UIN Ar-Raniry.
“Capaian ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat internasional terhadap kualitas pendidikan di UIN Ar-Raniry,” ujarnya.
Berdasarkan negara asal, peserta terbanyak berasal dari Malaysia dan Pakistan. Kedua negara tersebut dinilai memiliki hubungan historis dan kedekatan dalam aspek keislaman dengan Aceh.
Sementara itu, dari sisi pilihan program studi, Program Studi S1 Teknologi Informasi pada Fakultas Sains dan Teknologi menjadi pilihan paling diminati dengan 22 pendaftar. Selain itu, program studi Teknik Lingkungan dan Arsitektur juga menjadi pilihan peserta, disusul berbagai program studi di bidang keagamaan dan ilmu sosial.
Untuk memastikan proses seleksi berjalan secara objektif dan komprehensif, UIN Ar-Raniry melibatkan delapan dosen berpengalaman yang merupakan lulusan perguruan tinggi luar negeri sebagai tim pewawancara.
Para dosen tersebut memiliki latar belakang pendidikan dari sejumlah negara, antara lain Mesir, Malaysia, Australia, Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris. Setiap peserta mengikuti sesi wawancara selama sekitar 20 hingga 30 menit yang dikemas secara komunikatif dan interaktif.
Selain menilai kesiapan akademik, proses wawancara juga menjadi ruang bagi panitia untuk mengenal motivasi serta kesiapan calon mahasiswa internasional dalam mengikuti proses pendidikan di UIN Ar-Raniry.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen UIN Ar-Raniry dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi serta mendukung visi Kementerian Agama Republik Indonesia periode 2025–2029 dalam mewujudkan masyarakat yang rukun, maslahat, dan cerdas.
Ke depan, UIN Ar-Raniry juga akan memperluas akses penerimaan mahasiswa melalui jalur non-reguler. Kampus tersebut dijadwalkan membuka penerimaan mahasiswa melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada Agustus 2026.
“Sebagai keberlanjutan komitmen keterbukaan, UIN Ar-Raniry juga bersiap membuka jalur penerimaan non-reguler skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada Agustus 2026 mendatang,” kata Prof. Saiful Akmal.
Dengan peningkatan jumlah peserta dan negara asal pendaftar, UIN Ar-Raniry Banda Aceh terus mendorong penguatan jejaring pendidikan internasional sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing perguruan tinggi Islam di tingkat global.


































