“Ilmu Tak Akan Hidup Jika Tidak Dibagikan”: Prinsip Ja’far dalam Mendedikasikan Hidupnya untuk Rakyat

WASPADA24

- Redaksi

Selasa, 22 Juli 2025 - 16:23 WIB

50537 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN — Setiap malam, dalam kesunyian menjelang pagi, Muhammad Ja’far Hasibuan menengadahkan tangan. Ia mengadukan harapan-harapan kecil yang dipeliharanya sejak lama dalam sujud-sujud panjang salat tahajud. Di atas sajadah yang menjadi saksi perjuangan batinnya, ia memohon satu hal yang terus menggantung dalam pikirannya: bisa menyelesaikan kuliah S2 di bidang kesehatan, dan tetap melanjutkan riset ilmiah yang sejak beberapa tahun terakhir mulai diakui dunia. Bagi Ja’far, malam-malam panjang bukan waktu untuk beristirahat, tetapi momen untuk memperkuat harapan. Kini, sebagian dari harapan itu satu per satu mulai menjadi nyata.

Muhammad Ja’far Hasibuan, pemuda asal pelosok Sumatera Utara yang dikenal sebagai ilmuwan muda berprestasi tingkat dunia, akhirnya resmi menyandang gelar Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Universitas Sumatera Utara (USU). Di tengah keterbatasan dan perjuangan hidup yang penuh tantangan, Ja’far tak hanya berhasil lulus, namun juga mendapat beasiswa penuh dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo—sosok yang selama ini ia anggap sebagai ayah angkat dan penyelamat dalam karier pendidikannya.

Namun kisah Ja’far bukanlah kisah sukses instan yang lahir dari kemudahan atau privilese. Ia pernah merasakan getirnya hidup yang tak semua orang sanggup menjalaninya. Sejak kecil, Ja’far harus bertahan dalam kemiskinan ekstrem. Ia hidup dengan serba kekurangan, bahkan harus membiayai sendiri sekolahnya sejak bangku dasar. Ketika melanjutkan kuliah, ia menjajakan roti keliling dengan sepeda usang. Kehidupan mahasiswa yang bagi sebagian orang diisi oleh buku dan kafe, bagi Ja’far justru diisi dengan berkeliling menjajakan dagangan dari gang ke gang. Suatu hari, dalam perjalanan menjajakan roti, ia ditabrak oleh orang mabuk. Sepeda ringsek, dagangan berserakan, tubuhnya luka. Tapi Ja’far tak menyerah. Ia memilih bangkit. Ia memilih tidur di emperan daripada berhenti kuliah.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari-hari sulit itu menyisakan banyak luka. Kadang ia hanya makan sekali dalam dua hari. Kadang hanya air putih menjadi pengganjal lapar. Tetapi ia percaya, “Tuhan tidak tidur.” Keteguhan hati itulah yang kemudian menjadi energi terbesar dalam perjalanan ilmiahnya. Dari keterbatasan laboratorium sederhana, lahirlah satu inovasi besar: Biofar SS, sebuah formula herbal berbahan alami yang dikembangkan untuk mengatasi berbagai penyakit kulit luar dan dalam. Ja’far melakukan risetnya sendiri, mendanai secara mandiri dari hasil berdagang dan bekerja serabutan. Ia tidak punya fasilitas riset mewah, tak memiliki tim peneliti profesional, tetapi ia punya tekad dan keberanian untuk mencoba.

Penemuan Biofar SS membawanya ke panggung ilmiah dunia. Ia memenangkan penghargaan di berbagai ajang inovasi ilmiah internasional, salah satunya di World Invention Creativity Olympic (WICO), Korea Selatan. Namun meski dunia mengakui penemuannya, Ja’far tetap memilih jalan kerakyatan. Ia membuka klinik gratis bagi masyarakat tidak mampu di sekitar Marindal, Deli Serdang. Klinik itu menjadi tempat ia membagikan obat hasil temuannya secara cuma-cuma. Tak ada biaya konsultasi, tak ada tarif pengobatan. Bagi Ja’far, ilmu bukan untuk dijual mahal, tapi untuk dibagikan. Sebab, “Ilmu yang tidak dibagikan adalah ilmu yang mati.”

Dukungan Kapolri datang di saat Ja’far hampir kehabisan daya. Ia sedang dalam kondisi sulit saat mendapat bantuan laboratorium dan bahan penelitian dari Jenderal Listyo Sigit sebanyak empat kali. Bantuan itu bukan hanya menyelamatkan jalannya riset, tetapi juga menyelamatkan semangatnya. Ketika kuliah S2 pun, Kapolri kembali hadir—memberikan beasiswa penuh, agar Ja’far bisa menyelesaikan pendidikannya tanpa harus kembali menggadaikan hidup demi biaya kuliah. Dalam keterangan yang disampaikannya kepada redaksi, Ja’far menyebut Kapolri bukan hanya sebagai pejabat negara, tetapi sebagai figur ayah yang hadir di saat dirinya nyaris kehilangan segalanya.

Bagi Ja’far, beasiswa itu bukan hanya dana pendidikan, tetapi pengakuan bahwa negara mempercayai anak muda dari desa, yang tidak punya apa-apa kecuali tekad. Ia menyebutnya amanah, yang kini harus ia bayar dengan kerja keras lebih besar. Ja’far pun terus mengembangkan riset herbalnya. Klinik Biofar SS kini menjadi pusat pengobatan tradisional gratis yang mulai menjangkau wilayah-wilayah pelosok. Ia juga tengah meneliti pengembangan formula Biofar SS agar bisa digunakan untuk pengobatan hewan ternak, terutama di daerah-daerah terpencil yang sulit mengakses fasilitas medis veteriner.

Semangat Ja’far tidak datang dari ambisi pribadi. Ia mengaku terinspirasi oleh semangat Sumpah Pemuda dan tokoh besar seperti BJ Habibie. Ia percaya bahwa pengabdian adalah bentuk tertinggi dari kecintaan terhadap negara. Bahkan, ia telah bertemu langsung dengan Ilham Habibie, putra almarhum Presiden ke-3 RI, yang memberikan dukungan moral atas perjuangannya. Ja’far ingin meneruskan semangat Habibie, bukan di bidang teknologi pesawat, melainkan di bidang kesehatan rakyat.

Ia berharap kisahnya menjadi semacam jalan penerang bagi pemuda-pemudi di pelosok Indonesia yang selama ini merasa tidak punya peluang. Ja’far ingin hadir sebagai bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Ia pun menitipkan pesan yang selalu ia ulang kepada setiap anak muda yang ia temui: jangan takut miskin, tapi takutlah kalau berhenti berdoa dan berhenti mencoba.

Hari ini, Ja’far tak lagi menjual roti keliling. Tapi ia tetap berjalan kaki menjemput harapan, menyambangi pasien, menyusun bahan riset, dan terus bangun di sepertiga malam. Salat tahajud masih menjadi rutinitas yang ia jaga dengan ketat. Baginya, semua pencapaian ini bukan karena dirinya hebat. Ia yakin, doa-doa dalam sunyi itulah yang mengetuk pintu-pintu langit. Dan ketika satu pintu terbuka—seperti beasiswa dari Kapolri—itu adalah pertanda bahwa pengabdian harus terus diperpanjang.

Muhammad Ja’far Hasibuan kini melangkah dengan gelar magister di tangannya, tetapi ia tetap menjunjung tinggi kesederhanaan dan kebermanfaatan. Ia tidak mencari panggung, tetapi terus mencari jalan agar ilmu pengetahuan bisa hidup dalam kehidupan masyarakat. Dalam diamnya laboratorium dan sunyinya tahajud, Ja’far tengah merumuskan masa depan yang lebih sehat, lebih adil, dan lebih penuh harapan—untuk Indonesia, dan untuk dunia. (RED)

Berita Terkait

Ikrar Bebas Narkoba dan HP Digelorakan, Kakanwil Ditjenpas Sumut: Perubahan Dimulai dari Hal Kecil
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni Soroti Dugaan Oknum Polsek Pancur Batu Libatkan Anak Dibawah Umur Jebak Maling Toko Ponsel di Pancur Batu, Wakapolda Sumut Janji Proses !
Bupati Karo Hadiri Sosialisasi Penertiban Kawasan Hutan, Tegaskan Dukungan Penuh pada Kebijakan Pusat  
Polda Sumut Serahkan Laporan Dugaan Penipuan Gadai ke Polrestabes Medan
Diduga Penipuan dan Penggelapan, PT Mandiri Ekspres Sejahtra Dilaporkan ke Polda Sumut Owner Siramkan Air ke Korban
PT Mandiri Ekspres Sejahtera Gadai Diseret ke Ranah Hukum, Nasabah Ungkap Modus Promo Jebakan dan Penggelapan
Wartawan Diteror Pegawai Gadai, Diteriaki Wartawan Bodong, Pelecehan Terhadap Jurnalis dan Dugaan Modus Penipuan Promo Pelunasan Tak Diakui Konsumen Dirugikan
Kapolri-Titiek Soeharto Tinjau TNTN: Dukung Pelestarian Gajah hingga Tanam Pohon

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:43 WIB

Jelang Hari Raya Idul Adha Harga Ternak di Aceh Tenggara Naik

Kamis, 30 April 2026 - 19:42 WIB

Dua Unit Rumah Semi Permanen Tanpa Penghuni Ludes di Lalap Sijago Merah

Kamis, 30 April 2026 - 09:55 WIB

Ketua DPD Partai Gelora Rekrut 20 Ribu Anggota Di 16 Kecamatan Aceh Tenggara.

Rabu, 29 April 2026 - 20:12 WIB

Tiga Pelaku Curi Kabel Tower Tengah Malam Sudah Diamankan Di Polres Aceh Tenggara

Rabu, 29 April 2026 - 19:49 WIB

Aksi Cepat Polres Agara di Lawe Alas, Pria 32 Tahun Tertangkap Tangan Simpan Sabu

Sabtu, 25 April 2026 - 21:10 WIB

Berkedok Aktivitas Menjahit Sepatu, Polres Agara Ungkap 123 Paket Ganja Siap Edar

Jumat, 24 April 2026 - 04:10 WIB

Samsudin Tajmal Dorong Polda Aceh Transparan dan Profesional Mengusut Spanduk Fitnah yang Serang Tokoh Publik

Kamis, 23 April 2026 - 02:44 WIB

Spanduk Provokatif dan Ancaman Disintegrasi: Tetap Waspada, Jangan Sampai Aceh Terpecah!

Berita Terbaru

ACEH BARAT DAYA

TMMD Abdya Dikebut, Dansatgas Soroti Kekompakan Tim di Lapangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 20:19 WIB

ACEH TENGGARA

Jelang Hari Raya Idul Adha Harga Ternak di Aceh Tenggara Naik

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:43 WIB

error: Content is protected !!