Bitung | Waspada24.com — Aspal di depan kantor Kejaksaan Negeri Bitung mendadak riuh pada Jumat sore, 27 Februari 2026.
Menjelang azan Magrib berkumandangan, Kepala Kejaksaan Negeri Bitung, Krisna Pramono SH., bersama Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Daerah Bitung turun ke jalan.
Bukan untuk melakukan penyidikan, melainkan menyapa warga dengan bungkusan takjil di tangan dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H.
Kegiatan ini menjadi panggung bagi jajaran kejaksaan untuk menanggalkan sejenak atribut formal mereka.
Di bawah langit senja, paket-paket takjil berpindah tangan kepada para pengendara dan pejalan kaki yang melintas.
Aksi berbagi ini menjadi representasi nyata dari wajah hukum yang lebih humanis, yang mencoba hadir di tengah masyarakat lewat semangat kedermawanan.
Lebih dari sekadar bagi-bagi kudapan, agenda ini merupakan wujud kepedulian institusi terhadap sesama di bulan yang penuh berkah.
Semangat yang diusung adalah resonansi kebaikan yang diharapkan mampu mempererat relasi antara korps Adhyaksa dengan publik, sekaligus menjadi bentuk syukur atas khidmatnya ibadah puasa tahun ini.
Ritual berbagi di jalanan itu kemudian bergeser ke dalam lingkungan kantor yang lebih tenang.
Di sana, Ustaz Habib Ali Bin Smith telah bersiap di mimbar. Melalui tausiahnya, ia memberikan siraman rohani yang mengingatkan seluruh hadirin tentang esensi pengabdian dan kesucian diri.
Ceramah ini menjadi jeda reflektif bagi para abdi negara sebelum menutup hari.
Suasana semakin hangat ketika waktu berbuka tiba.
Ruang pertemuan kantor berubah menjadi ruang makan besar yang menyatukan keluarga besar Kejari Bitung, pengurus IAD, hingga jajaran Forkopimda Kota Bitung.
Kehadiran para pimpinan daerah di satu meja menunjukkan bahwa sinergitas di Kota Bitung tetap terjaga erat melalui tradisi silaturahmi yang kuat.
Di antara kerumunan tamu, tampak pula wajah-wajah ceria dari anak-anak Panti Asuhan Al-Muhtadien yang turut diundang.
Kehadiran mereka menjadi pengingat utama tentang makna persaudaraan tanpa sekat.
Acara pun ditutup dengan momen kebersamaan yang penuh rahmat, menegaskan bahwa keadilan dan kebaikan adalah dua sisi mata uang yang harus berjalan beriringan. (74M)




























