Bitung | Waspada24.com — Malam di Kelurahan Manembo-nembo Atas terasa lebih hangat dari biasanya. Di balik pilar-pilar Masjid At-Taubah, Kecamatan Matuari, ratusan warga berkumpul bukan sekadar untuk menunaikan kewajiban religius, melainkan menyambut rombongan korps berseragam cokelat yang datang membawa pesan damai.
Jumat, 27 Februari 2026, jarum jam menunjuk pukul 19.30 Wita saat Tim Safari Ramadhan 1447 H Polres Bitung tiba di lokasi.
Tak ada kesan kaku; para personel kepolisian ini langsung melebur bersama jamaah, mengawali kegiatan dengan sujud bersama dalam jamaah Sholat Isya yang khusyuk.
Usai salam terakhir diucapkan, suasana beralih menjadi ruang diskusi keagamaan.
Mimbar masjid malam itu diisi oleh Dai Polres Bitung, AIPDA Didi Bachmid, yang membawakan tausiyah dengan diksi yang menyentuh sisi spiritualitas para jamaah.
Dalam ceramahnya, Didi menekankan bahwa Ramadhan adalah fase krusial bagi setiap muslim untuk melakukan refleksi diri.
Ia mengajak sekitar 200 jamaah yang hadir untuk tidak membiarkan bulan suci berlalu begitu saja tanpa adanya peningkatan kualitas iman.
”Bulan puasa adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri,”
ujar Didi dengan nada rendah namun bertenaga.
Ia mendorong warga agar memenuhi malam-malam Ramadhan dengan qiamul lail, tadarus, dan memperbanyak sedekah, meneladani perilaku Rasulullah SAW.
Namun, pesan Didi tak berhenti di urusan sajadah. Dengan gaya komunikatif yang humanis, ia menyelipkan poin-poin penting mengenai ketertiban masyarakat, menyasar langsung pada fenomena sosial yang kerap terjadi di kalangan anak muda saat bulan puasa.
Sorotan tajam diberikan pada aksi balapan liar yang sering menjamur usai sholat subuh maupun menjelang waktu berbuka.
Didi mengingatkan bahwa jalanan umum bukanlah sirkuit, dan nyawa bukan barang murah yang bisa dipertaruhkan demi hobi sesaat.
Polisi juga memberikan atensi khusus pada penggunaan knalpot brong yang bising.
Bagi Polres Bitung, suara bising tersebut bukan sekadar polusi suara, melainkan bentuk pengabaian terhadap hak masyarakat yang sedang menjalankan ibadah dengan tenang.
”Perilaku tersebut tidak dibenarkan dalam agama dan membahayakan nyawa. Selain itu, kenyamanan warga yang sedang beribadah terganggu secara langsung,”
tambah Didi, menegaskan kaitan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.
Di sisi lain masjid, Kasi Humas Polres Bitung AKP Abdul Natip Anggai menjelaskan peta jalan program ini.
Masjid At-Taubah terpilih sebagai pemberhentian kedua, menyusul kesuksesan agenda serupa yang sebelumnya digelar di Masjid Al Muttaqien, Girian Weru Satu.
Natip memaparkan bahwa korps Bhayangkara Bitung telah menjadwalkan empat kunjungan ke berbagai titik strategis.
Bagi mereka, Safari Ramadhan adalah jembatan komunikasi langsung agar pesan keamanan tidak hanya sampai melalui selebaran, tapi melalui jabat tangan.
”Kehadiran kami di sini adalah sebagai sahabat masyarakat. Kami ingin memastikan situasi tetap aman dan kondusif sehingga warga bisa beribadah tanpa rasa was-was,”
ungkap Natip, menggambarkan peran kepolisian yang lebih organik dan persuasif.
Kehadiran tim yang dipimpin Kasat Polair AKP La Ali dan jajaran perwira lainnya ini pun mendapat apresiasi dari Imam Masjid At-Taubah, Abdul Rohim.
Baginya, kunjungan kepolisian ini membawa kesejukan tersendiri dan mempertebal rasa percaya warga terhadap aparat negara. (74M)



































