Bitung | Waspada24.com – Di sebuah sudut riuh Kompleks Pasar Girian, tepatnya di kediaman keluarga Anggai-Mardjun, suasana mendadak senyap. Sabtu, 11 April 2026, bukan sekadar akhir pekan biasa bagi Bripda Nur Iman Noval Ijal dan Bripda Hana Magfirah R. Anggai.
Di bawah tatapan saksi dan keluarga, dua personel kepolisian ini menanggalkan sejenak atribut kedinasan untuk menjalani misi paling sakral dalam hidup mereka: akad nikah.
Acara yang berlangsung di Kelurahan Girian Weru Satu ini menghadirkan pertautan dua latar belakang yang kuat. Hana, putri dari perwira polisi AKP Abdul Natip Anggai dan Hartini Mardjun, bersanding dengan Noval dalam sebuah prosesi yang memadukan protokoler tak tertulis korps baju cokelat dengan kekentalan adat lokal.
Dua imam besar, Arifin Moha dan Ramli Mamonto, hadir mengawal jalannya syariat, sementara Kepala KUA Zainudin S.Ag. memastikan seluruh administrasi kenegaraan tuntas di atas meja kayu yang menjadi saksi bisu janji suci tersebut.
Ketegangan mencair saat AKP Abdul Natip Anggai sendiri yang menjabat tangan Noval.
Lewat satu tarikan napas, ijab qabul terucap mantap. Namun, keheningan kembali menyergap saat sesi sungkeman.
Putri tertua Abdul Natip, Arini melantunkan lagu “Surga di Telapak Kaki Ibu”. Alunan melodi melankolis itu seketika meruntuhkan pertahanan emosional para hadirin; air mata pecah, sebuah penghormatan paling dalam bagi orang tua sebelum kedua mempelai melangkah ke gerbang baru.
Panggung utamapun diserahkan kepada Habib Abdullah bin Smit. Tokoh agama kharismatik ini hadir memberikan “kompas” bagi perjalanan baru sang pengantin.
Dengan gaya tutur yang tenang namun tajam, Habib Abdullah membedah filosofi di balik nama keduanya sebagai pertanda baik bagi masa depan.
”Naufal itu kedermawanan atau ketampanan dalam bahasa Arab, sementara Hana adalah kebahagiaan, atau bunga dan keberkahan dalam bahasa Jepang,”
urai Habib Abdullah. Beliau menyebut pertemuan nama ini bukan sekadar kebetulan, melainkan keserasian luar biasa yang diharapkan membawa energi positif hingga akhir hayat.
Suasana semakin hangat saat Habib Abdullah mengulik kisah awal mula pertemuan mereka yang ternyata bersemi di koridor Polda Sulut.
Baginya, pandangan pertama yang berujung pada ketenangan hati adalah sinyal jodoh yang diridhai. Dengan resminya ikatan ini, ia menegaskan bahwa Noval dan Hana kini telah menggenapi separuh agama mereka, sebuah jalan untuk meraih ampunan dan keberkahan yang lebih luas.
Namun, nasihat Habib tidak berhenti pada romantisme semata. Beliau memberikan risalah praktis tentang lima hak istri yang wajib dijaga oleh Noval sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW.
Poin utama adalah nafkah; suami wajib menyediakan makanan yang setara kelezatannya dengan apa yang ia nikmati sendiri. Begitu pula soal sandang, di mana suami diminta tidak pelit dalam memuliakan istri melalui pakaian yang layak dan indah.
Habib Abdullah juga memberikan peringatan keras mengenai etika verbal.
“Haram hukumnya menjelek-jelekkan istri,”
tegasnya. Beliau mengingatkan bahwa dalam rumah tangga, peran perempuan terutama mereka yang juga berprofesi sebagai polisi mencapai 70 persen dari kunci kesuksesan keluarga.
Memuliakan dan memuji istri bukanlah sebuah kelemahan bagi suami, melainkan bentuk kematangan iman.
Tensi tausiyah sempat menajam saat Habib berbicara soal kekerasan. Beliau melarang keras adanya pemukulan terhadap wajah istri.
Meneladani Rasulullah SAW, beliau mengingatkan bahwa Nabi tidak pernah menyakiti istri, anak, bahkan pelayan sekalipun, meski hanya dengan sebatang kayu siwak yang kecil.
Baginya, kekuatan seorang pria sejati diuji dari caranya menjaga marwah wanita di sampingnya.
Pesan terakhir yang dititipkan adalah soal proteksi dan kebersamaan. Di era komunikasi modern yang serba cepat, menjaga kehadiran fisik dan komunikasi menjadi kunci.
Suami diharapkan tidak membiarkan istri melangkah tanpa perlindungan dan perhatian yang cukup. Pernikahan, menurut Habib, adalah tentang menjaga amanah di tengah gempuran zaman.
Menutup tausiyahnya, doa panjang mengalun agar pasangan ini menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah.
Sebuah pesan khusus diselipkan untuk Noval: jaga Hana dengan sepenuh hati, sebab ia kini adalah satu-satunya amanah yang harus dijaga dan dimuliakan seumur hidup. (74M)



































