Bitung | Waspada24.com – Jalanan utama Kota Bitung mendadak berubah menjadi panggung raksasa, Rabu, 20 Mei 2026.
Pekik merdeka dan tabuhan musik tradisional bertalu-talu, menandai Hari Kebangkitan Nasional yang tahun ini dirayakan lewat selebrasi yang tak biasa. Parade Adat Nusantara dan unjuk budaya lintas etnis.
Namun, magnet utama acara justru terjadi di barisan paling khidmat. Di tengah riuh rendah parade, Majelis Adat Budaya Tonsea Minahasa (MABTM) bersama Angkatan Muda MABTM menggelar ritual sakral, menyematkan gelar kehormatan “Tonaas Tonsea Waraney In Tana” kepada Komandan Satuan Patroli (Dansatrol) Kodaeral VIII Bitung, Kolonel (P) Marvill Marfel Frits.
Prosesi pengukuhan adat itu mengambil momentum tepat setelah arak-arakannya menyentuh garis finis. Sebuah upacara yang menegaskan bahwa urusan pertahanan negara dan kelestarian adat bisa berjalan beriringan di tanah Minahasa.
Parade itu sendiri merupakan potret mini Indonesia. Ratusan manusia tumpah ruah, mulai dari barisan tokoh lintas agama yang anggun, aktivis organisasi kebudayaan, kelompok pemuda yang energik, hingga kelompok pelajar yang bersemangat.
Mereka datang dari berbagai penjuru angin. Bukan cuma representasi dari bumi jazirah Sulawesi Utara, melainkan juga kelompok-kelompok masyarakat dari luar daerah yang sengaja datang membawa misi kebudayaan masing-masing.
Usai upacara pengukuhan yang khidmat, Kolonel Marvill tak bisa menyembunyikan rasa takzimnya. Perwira menengah TNI Angkatan Laut ini melempar pujian kepada MABTM dan sayap pemudanya yang dinilai sukses menjadi motor penggerak festival kebudayaan tersebut.
”Puji Tuhan, kegiatan Parade Nusantara dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional dapat terlaksana dengan baik, aman dan lancar. Semua rangkaian kegiatan berjalan sempurna,”
kata Marvill, dengan nada suara yang mantap.
Di mata Marvill, kesuksesan hajatan kolosal ini adalah buah dari kerja komunal. Ia menyebut ada tangan-tangan tak terlihat dari ratusan sukarelawan yang menjaga roda acara tetap berputar di jalur yang aman.
Acara hari itu memang bukan sekadar pameran baju adat. Di dalamnya, terselip tiga agenda besar yang saling mengikat, parade budaya yang inklusif, ritus penganugerahan warga kehormatan, serta ikrar damai bersama.
”Kami berterima kasih kepada Majelis Adat Budaya Tonsea yang luar biasa mendukung kegiatan ini. Mulai dari Parade Nusantara, prosesi penganugerahan warga kehormatan adat Tonsea, sampai deklarasi damai masyarakat Kota Bitung, semuanya dapat terlaksana dengan baik dan kondusif,”
ujarnya.
Ada fenomena menarik yang terekam sepanjang acara, jarak geografis seolah menguap. Lapangan upacara dipadati oleh kontingen yang datang jauh-jauh dari Pulau Jawa, Makassar, hingga Kupang.
Yang bikin panitia semringah, sebagian besar dari mereka datang atas inisiatif sendiri. Sebuah indikator bahwa daya pikat persatuan di kota pelabuhan ini masih sangat magis bagi masyarakat urban.
”Tanpa harus diundang secara khusus, banyak organisasi masyarakat, pemuda dan anak-anak sekolah ikut berkontribusi. Ini menunjukkan kebersamaan masyarakat sangat luar biasa,”
tutur Marvill, menambahkan.
Bagi sang Kolonel, sandangan gelar “Tonaas Tonsea Waraney In Tana” jelas bukan sekadar simbol kosmetik untuk dipajang. Ada beban moral yang cukup berbobot yang kini resmi ditaruh di pundaknya.
Sebagai nakhoda Satrol Kodaeral VIII yang merepresentasikan institusi TNI AL, pengukuhan ini adalah tanda bahwa dirinya telah “diadopsi” dan diterima sepenuhnya sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat adat Minahasa.
”Ini merupakan kehormatan bagi saya pribadi. Kami sangat berterima kasih karena diberikan kepercayaan oleh masyarakat Kota Bitung melalui Majelis Adat Budaya Tonsea,”
kata perwira tinggi berwajah tegas itu.
Namun, Marvill sadar, di balik baju adat yang anggun, ada tanggung jawab ganda. Ia kini tak hanya memanggul mandat konstitusi sebagai penjaga keamanan laut, tapi juga mandat kultural untuk merawat harmoni sosial.
Langkah cerdik MABTM merangkul jajaran Forkopimda dan elit daerah ke dalam lingkaran adat ini dibaca banyak pihak sebagai sinyal politik-kebudayaan yang kuat.
Ini membuktikan watak asli masyarakat adat Tonsea yang akomodatif terhadap perbedaan.
Pada akhirnya, riuh rendah Hari Kebangkitan Nasional di Bitung tahun ini menyisakan satu pesan penting: perayaan tak lagi sekadar ritual birokrasi yang dingin, melainkan ruang hidup tempat solidaritas masyarakat multietnis diuji dan dirayakan. (74M)



































