Bitung | Waspada24.com — Jarum jam menunjukkan pukul 16.36 WITA saat sejumlah personel berseragam cokelat mulai memadati ruas jalan di depan Markas Komando Polsek Ranowulu, Rabu sore, (25/02/2026).
Bukan barikade besi atau papan razia yang mereka pasang, melainkan deretan paket takjil yang siap berpindah tangan.
Di bawah semburat jingga langit Bitung, sebuah pesan kepedulian sedang dirajut di tengah hiruk-pikuk arus mudik lokal.
Di garda terdepan, Kapolsek Ranowulu IPTU Teguh Pambudi tampak sibuk. Mengenakan seragam dinas yang rapi, ia tak segan menghampiri kabin truk hingga setang motor yang melambat.
Sore itu, sebanyak 100 dos panganan berbuka puasa ludes terdistribusi dalam hitungan menit.
Bagi para pengendara yang masih terjebak di aspal saat azan berkumandang, paket kecil itu adalah kemewahan sederhana di tengah dahaga Ramadan 1447 H.
Namun, ini bukan sekadar urusan membagi kudapan manis. Di balik gerakan tersebut, ada upaya Polri untuk meruntuhkan dinding kaku antara otoritas dan warga.
Kehadiran para personel Polsek Ranowulu yang berbaur dengan senyum ramah menjadi pemandangan kontras dari citra penegakan hukum yang biasanya formal dan dingin.
Di sini, polisi mencoba hadir sebagai “sahabat lama” bagi masyarakat.
Tak sendiri, barisan Bhayangkari Ranting Ranowulu yang dipimpin Ny. Dewi Teguh turut memberi warna pada aksi sosial ini.
Sentuhan tangan para ibu Bhayangkari dalam menyapa pejalan kaki dan warga sekitar menambah nuansa hangat.
Kehadiran mereka seolah menegaskan bahwa institusi ini adalah bagian tak terpisahkan dari struktur sosial yang sedang merayakan bulan suci.
Wakapolsek IPTU Tommy Sorongan dan seluruh jajaran Polsek Ranowulu pun tak mau ketinggalan.
Mereka berbagi tugas, memastikan lalu lintas tetap mengalir tanpa sumbatan, sembari memastikan setiap paket sampai ke tangan yang tepat.
“Ini adalah agenda rutin, sebuah ikhtiar untuk mempererat tali silaturahmi yang mungkin sempat merenggang karena rutinitas,”
Ujar Teguh Pambudi dengan nada rendah namun mantap.
Bagi Teguh, Ramadan adalah momentum emas untuk memperkuat kolektivitas.
Ia memandang kebersamaan ini sebagai modal sosial yang besar. Baginya, menjaga situasi Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) di wilayah Ranowulu tidak bisa dilakukan hanya dengan patroli malam, melainkan harus dimulai dengan mengetuk hati warga melalui interaksi langsung seperti ini.
Sambil membagikan takjil, terselip pula edukasi ringan. Para personel kepolisian mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban lingkungan dan keselamatan berkendara.
Pesan-pesan normatif itu terasa lebih “masuk” di telinga warga ketika disampaikan dalam suasana santai penuh kekeluargaan, jauh dari kesan menggurui atau menekan.
Tepat pukul 17.02 WITA, kegiatan berakhir seiring dengan habisnya stok takjil di meja petugas.
Jalanan depan Mako Polsek kembali ke ritme semula, namun ada jejak kehangatan yang tertinggal di ingatan warga yang melintas.
Sore itu menjadi bukti kecil bahwa sinergi antara Polri dan masyarakat bisa lahir dari hal-hal sederhana di pinggir jalan. (74M)



































