​Jejak Sejarah Panglima Perang Tontemboan dan Riwayat Fam Mamarimbing

Tamrin L.

- Redaksi

Minggu, 14 Juni 2026 - 10:12 WIB

5048 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sulut | Waspada24.com Lembaran sejarah tanah Minahasa tidak dapat dipisahkan dari nama besar Mamarimbing atau Rambing.

Beliau diakui sebagai salah satu Dotu sekaligus Tonaas (pemimpin) legendaris yang memegang kendali kepemimpinan dari sub-etnis Tontemboan.

​Sebagai seorang panglima perang yang disegani, Mamarimbing masuk dalam jajaran Muntu-Untu, yakni tokoh-tokoh penting Minahasa. Kepiawaiannya yang paling menonjol adalah kemampuan spiritual dalam mendengarkan petunjuk melalui suara burung wara’ atau manguni.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keahlian khusus dalam menafsirkan isyarat alam inilah yang kemudian melekat pada dirinya dan para penerusnya. Di kemudian hari, nama besar sang tonaas diabadikan menjadi salah satu fam atau marga asli Minahasa yang dikenal sebagai “Mamarimbing”.

​Berdasarkan silsilah adat, Opo Mamarimbing tua dikisahkan sebagai anak kandung dari tokoh kosmologis Minahasa, Toar dan Lumimuut. Ia membangun rumah tangga bersama istrinya yang bernama Tina’atalan.

​Dari pernikahan tersebut, lahirlah generasi penerus yang tercatat bernama Matulandi, Tasumondak, dan Tarumampen. Keluarga ini mendiami wilayah utara dan barat di kaki Gunung Tonderukan, tepatnya di kawasan Tumaratas tua.

​Lokasi pemukiman purba tersebut saat ini secara geografis terletak di antara Kampung Kanonang dan Tumaratas. Seiring berjalannya waktu, wilayah Tumaratas tua mengalami perkembangan pesat hingga terbagi menjadi dua kelompok komunitas besar.

​Kelompok masyarakat yang bermukim di bagian barat disebut dengan nama komunitas “Mawale”. Sementara itu, kelompok masyarakat yang mendiami wilayah bagian timur dikenal oleh penduduk setempat sebagai “Tou Ure”.

Peran Mamarimbing I tercatat sangat sentral ketika berlangsungnya Pertemuan Raya di Watu Pinawetengan. Dalam momentum bersejarah tersebut, ia terlibat langsung dalam pembagian wilayah makro Minahasa menjadi empat kelompok besar.

​Konferensi akbar masyarakat Malesung (sebutan Minahasa purba) itu dipimpin oleh trio Opo Kopero, Mandei, dan Muntu-untu. Agenda utama mereka adalah menyatukan visi dan memisahkan teritorial berdasarkan ikatan sub-etnis.

​Dari musyawarah besar di batu sakral tersebut, lahirlah empat pakasaan atau paesaan utama yang kita kenal hingga hari ini. Keempat kelompok besar tersebut meliputi wilayah sub-etnis Tontemboan/Tumaratas, Tombulu, Tondano/Toulour, dan Tonsea.

​Sepanjang jalannya kongres raya, Opo Mamarimbing tua mengemban tugas krusial sebagai juru pendengar burung manguni. Posisi ini menjadikannya penasihat spiritual utama guna memastikan keputusan yang diambil selaras dengan kehendak alam.

​Asal-Usul Nama dan Misteri Burung Manguni

​Kedekatan mistis sang panglima dengan burung manguni melahirkan sebutan “koko’ ni Mamarimbing” di kalangan masyarakat adat. Secara harfiah, istilah koko’ merujuk pada makna ayam atau unggas milik Opo Mamarimbing.

​Transformasi fonetis juga terjadi pada penyebaran nama klan ini, di mana Dotu Mamarimbing sering pula disebut sebagai Mawarimbing. Perubahan nama tersebut memiliki akar etimologis yang sangat erat dengan keahliannya.

​Kata ma’ wara’ diartikan sebagai orang yang memiliki keahlian khusus mendengar suara burung wara’ atau burung hantu manguni. Sementara kata warimbing merujuk pada bulu leher yang ada pada ayam jantan atau jenis unggas lainnya.

​Fragmen Konflik Kuno “Perang Pasengkotan”

​Jauh sebelum era kolonial, tanah Malesung sempat diguncang oleh konflik internal berskala besar yang dikenal sebagai Perang Pasengkotan. Pertempuran kuno ini melibatkan penduduk asli melawan gelombang pendatang dari arah selatan.

​Secara harfiah, istilah “Pasengkotan” memang memiliki arti sebagai kaum pendatang. Tradisi lisan Minahasa mencatat bahwa konflik ini meletus tidak lama setelah era ampuhan atau peristiwa banjir besar yang legendaris.

​Perang ini dipicu oleh pergeseran nilai budaya dari kaum pendatang yang dinilai tidak lagi menghormati aturan adat Watu Tiwa. Kelompok Pasengkotan yang berbasis di sekitar wilayah Lilinowan hingga Danau Moat ini mulai mengancam tatanan kesetaraan lokal.

​Menghadapi ancaman dari selatan, Opo Mamarimbing selaku Walian tua bersinergi dengan Opo Makawulur yang dikenal sebagai ksatria gunung atau Waraney.

Kedua tokoh ini memimpin strategi pertahanan demi menjaga kedaulatan tanah leluhur.

​Untuk memenangkan pertempuran secara spiritual dan fisik, bangsa Minahasa purba menciptakan sarana ritual bernama Lesung Masaru. Sarana ini terdiri dari sembilan lesung batu khusus yang digunakan sebagai medium upacara perang.

​Pada lesung utama, dipahat ukiran simbol leluhur Toar dan Lumimuut sebagai bentuk permohonan kekuatan kepada Sang Pencipta, Empung Ririmpuruan. Lesung tersebut kemudian diisi dengan abu dari kuburan para leluhur.

​Secara ritual, monumen batu ini diarahkan ke posisi musuh dengan keyakinan bahwa roh leluhur akan mengacaukan konsentrasi lawan.

Strategi ini membuahkan hasil awal di mana pasukan gabungan Pasengkotan berhasil dipukul mundur di sepanjang pinggiran Sungai Ranoyapo.

​Namun, keadaan berbalik dinamis setelah wafatnya para pemimpin tertua Minahasa. Kaum Pasengkotan kembali melancarkan agresi balasan dengan kekuatan armada yang jauh lebih masif melalui jalur pantai.

​Menghadapi kepungan ketat, pasukan Minahasa menerapkan strategi serangan nekat yang dikenal dengan istilah bage sapu rata. Pertempuran berdarah ini memaksa gelombang pertahanan Minahasa mundur hingga ke wilayah Tenga dan Sonder.

​Kiprah Opo Mamarimbing II Melawan Spanyol dan Mongondow

Sejarah mencatat estafet perjuangan terus berlanjut hingga ke generasi Opo Mamarimbing II yang hidup pada abad ke-17.

Tokoh yang diperkirakan lahir antara tahun 1630-1640 ini memilih tinggal dan menetap di daerah Tongkimbut, Kawangkoan.

​Opo Mamarimbing II tampil ke panggung sejarah sebagai salah satu aktor utama dalam Perang Minahasa melawan Spanyol pada tahun 1664. Ia bahu-bahu membahu bersama para tokoh patriotik lain seperti Ukung Oki dan Londe.

​Medan pertempuran sengit yang berpusat di wilayah Pontak dan Tonsawang berhasil memukul mundur pasukan kolonial. Kerugian besar di pihak Spanyol memaksa armada barat tersebut angkat kaki dan mundur menuju Filipina pada tahun 1665.

​Tidak berhenti di situ, Opo Mamarimbing II juga memegang peranan vital dalam perang berkepanjangan melawan Kerajaan Bolaang Mongondow.

Konfrontasi memuncak saat militer Minahasa harus berhadapan dengan Raja Loloda Mokoagow atau Datoe Binangkang.

​Dalam merumuskan taktik, Opo Mamarimbing II konsisten mendengarkan suara burung wara‘ demi menangkap petunjuk suci para Opo di kasendukan (surga). Berkat strategi matang, pasukan Mongondow berhasil dipukul mundur ke arah timur di daerah Tourages-Tompaso pada Juni 1693.

​Di lokasi tersebut, pasukan Minahasa membakar jenazah musuh mereka, yang memicu lahirnya nama tempat “Touracet” atau “Tou Rages” (orang yang dibakar).

Pasukan lawan terus terdesak hingga ke seberang sungai Poigar, yang kemudian disepakati sebagai “batas”. Momentum kemenangan inilah yang meresmikan perubahan nama tanah Malesung menjadi Minahasa.

Perjanjian Damai VOC dan Akhir Hayat Sang Tonaas

​Eskalasi konflik yang tinggi akhirnya memicu kekhawatiran pihak kompeni Belanda. VOC kemudian mengutus Residen Manado, Hermann Jansz Steykuyler, untuk memediasi perjanjian damai pada tanggal 21 dan 30 September 1694.

​Perjanjian tersebut diteken oleh Jacobus Manoppo putra Loloda Mokoagow yang lahir dari rahim perempuan Minahasa asal Rumoong Bawah. Kesepakatan itu menetapkan batas resmi kedua wilayah di garis Tanjung Poigar, kuala Poigar, selatan Pontak, hingga kuala Boeras (Buyat).

​Atas jasa besarnya, Opo Mamarimbing II dianugerahi sebidang tanah luas di seberang kuala Ranoyapo yang kini dikenal sebagai “Kawangkoan di bawah”. Sang panglima wafat dan dimakamkan di kompleks waruga Tongkimbut, tepat di sebelah timur laut Kota Kawangkoan saat ini. (74M)

Berita Terkait

Korban Menanti Keadilan, Kapolda Sumut Didesak Evaluasi Kapolsek Medan Baru dan Jajarannya
GRIB Jaya Kota Medan Dan GRIB Jaya Medan Petisah Hadir di Tengah Masyarakat, Ketua Syaiful Marpaung Turun Langsung Bagikan Ratusan Nasi Kotak
Jejak Langkah Toguuwa Ma Lamo: Kisah Kesatria Minahasa yang Menjadi Jantung Suku Tobaru
Konfirmasi Tak Dijawab, Akuntabilitas Pengelolaan Proyek Irigasi Dipersoalkan
Tegaskan Komitmen Zero Halinar, Satopspatnal Ditjenpas Sumut Laksanakan Sidak dan Razia di Rutan Pangkalan Brandan
ARM Desak APH Audit dan Usut Proyek Infrastruktur di Bawah DBMPR Jabar
Dipimpin Kapolres Batu Bara, Razia Gabungan di Lapas Labuhan Ruku Tidak Temukan Narkoba dan HP Ilegal
Lapas Sibolga Jalin Kerja Sama dengan PKBM Talora, Warga Binaan Ikuti Pendidikan Paket dan Keterampilan

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 00:51 WIB

Putri Tanoh Alas di Grand Final Duta FILKOM UB 2026, Aceh Tenggara Diajak Bersatu Memberi Dukungan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:54 WIB

Petani Menjerit Pupuk Langka di Aceh Tenggara

Jumat, 5 Juni 2026 - 10:21 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Gagalkan Peredaran Sabu di Bambel, Seorang Pengedar Diamankan

Selasa, 2 Juni 2026 - 16:57 WIB

Tiga Unit Rumah di Lalap Sijago Merah Desa Seri Muda Aceh Tenggara

Selasa, 2 Juni 2026 - 09:05 WIB

Dikira Solusi, Ternyata Jembatan di Desa Kuning 1 Menjadi Malapetaka bagi Warga,  Kuning I

Kamis, 28 Mei 2026 - 17:38 WIB

Sijago Merah Lalap 7 Rumah di Desa Kute Bakti Aceh Tenggara

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:41 WIB

Dikira Solusi, Ternyata Jembatan di Desa Kuning 1 Menjadi Malapetaka bagi Warga, Kuning I 22/05/2026

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:38 WIB

SMAN 1 Kutacane Catat Prestasi, 117 Siswa Lolos Seleksi Nasional Perguruan Tinggi 2026

Berita Terbaru