Bitung | Waspada24.com — Jalanan di depan Markas Kepolisian Sektor Matuari mendadak melambat pada Jumat sore, 27 Februari 2026.
Di bawah langit yang mulai meredup pukul 16.50 Wita, hiruk-pikuk kendaraan yang biasanya menderu berubah menjadi barisan antrean yang tertib. Hari itu, aspal jalanan tidak sedang dijaga dengan razia, melainkan dengan senyum.
Di sana, di antara deru mesin dan kepulan debu tipis, sosok perempuan berpangkat Ajun Komisaris Polisi berdiri tegak namun santun.
AKP Feriantina Dwi Arahmayani, sang Kapolsek, tidak sedang memegang HT untuk komando penangkapan.
Kedua tangannya justru sibuk mengulurkan paket-paket kecil berisi kudapan berbuka puasa kepada para pelintas.
Bersama barisannya, Feriantina melarut dalam arus masyarakat. Ramadhan 1447 Hijriah ini nampaknya menjadi panggung bagi institusinya untuk menanggalkan kesan kaku.
Satu per satu pengendara yang tergesa mengejar waktu magrib dihentikan sejenak, bukan untuk diperiksa surat kendaraan, melainkan untuk disapa dengan hangat.
Bagi Polsek Matuari, aksi ini bukan sekadar rutinitas pembagian logistik menjelang bedug.
Ada upaya untuk merajut kembali benang-benang silaturahmi yang mungkin sempat merenggang oleh urusan birokrasi hukum.
Di mata warga yang melintas, kehadiran polisi sore itu terasa seperti oase di tengah dahaga ibadah.
Antusiasme warga pun pecah. Ucapan terima kasih dan apresiasi mengalir dari balik kaca helm dan jendela angkutan umum.
Gestur sederhana ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik seragam cokelat yang mereka kenakan, ada detak kepedulian yang ingin ditunjukkan kepada masyarakat Matuari.
Feriantina menegaskan bahwa paradigma kepolisian harus terus bergeser.
Baginya, tugas penegakan hukum hanyalah satu sisi koin; sisi lainnya adalah kemanusiaan.
“Kami ingin hadir bukan sebagai sosok yang ditakuti, melainkan sebagai kawan perjalanan masyarakat,”
ujarnya dengan nada tenang.
Pesan yang dibawa sore itu melampaui sekadar urusan perut. Polsek Matuari menyisipkan misi tersirat: mengajak warga menjadi garda terdepan dalam menjaga ketenangan lingkungan.
Keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di bulan suci dipandang sebagai tanggung jawab kolektif yang harus dipikul bersama.
Ibadah yang khusyuk, menurut sang Kapolsek, hanya bisa lahir dari situasi yang kondusif.
Ia berharap interaksi di pinggir jalan ini menjadi pemantik bagi warga untuk saling menghargai dan mengisi bulan suci dengan kegiatan yang jauh dari friksi sosial maupun gangguan keamanan.
Tepat pukul 16.30 Wita, ketika matahari kian condong ke ufuk barat, kegiatan berakhir dengan tenang.
Namun, jejak keakraban itu tetap membekas di gerbang Mapolsek.
Lewat langkah kecil ini, mereka sedang mencoba membuktikan bahwa keamanan sejati justru bermula dari kedekatan yang paling humanis. (74M)



































