Jakarta | Waspada24.com — Senin siang itu, langit di atas Jakarta Selatan tampak lebih redup dari biasanya. Di bawah rimbun pohon kemboja Taman Makam Pahlawan Kalibata, sebuah babak sejarah resmi ditutup.
Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia yang dikenal dengan kesantunan khas Jawanya, akhirnya beristirahat dalam pelukan bumi pertiwi.
Indonesia bukan sekadar kehilangan seorang mantan pejabat tinggi, melainkan sosok saksi hidup pasang surutnya kekuasaan di tanah air.
Presiden Prabowo Subianto berdiri tegak di barisan paling depan, mengambil posisi sebagai inspektur upacara.
Dengan tatapan yang dalam, Prabowo memimpin penghormatan terakhir bagi sang senior yang pernah menjadi jangkar di masa-masa transisi bangsa.
Kehadiran sang Presiden bukan sekadar seremonial formalitas, melainkan sebuah gestur penghormatan antara dua prajurit atas dedikasi tanpa batas yang telah diberikan almarhum bagi kedaulatan negara.
Tepat pukul 13.45 WIB, suasana berubah menjadi sunyi yang mencekam. Prosesi dimulai setelah pihak keluarga, dengan ketabahan yang nyata, menyerahkan jenazah almarhum kepada negara.
“Kami serahkan untuk dimakamkan secara militer,”
ujar perwakilan keluarga, sebuah kalimat singkat yang menandai akhir dari pengabdian personal menuju pengabdian abadi bagi sejarah.
Peti jenazah yang dibalut Sang Saka Merah Putih itu pun perlahan bergerak menuju liang lahat diiringi derap langkah tegap pasukan penghormat.
Try Sutrisno adalah anomali di tengah kerasnya dunia politik dan militer, ia meninggalkan warisan berupa keteladanan tentang kesederhanaan dan cinta tanah air yang tak meledak-ledak namun menghujam dalam.
Semangat patriotisme yang ia emban sejak masa mudanya di korps militer hingga menduduki kursi orang nomor dua di republik ini, kini menjadi cermin bagi siapa saja yang ingin mencari arti sejati dari kata “pengabdian”.
Ia pergi meninggalkan jejak etika yang sulit dicari padanannya di era sekarang.
Di bawah nisan yang masih basah, doa-doa dilambungkan agar sang Jenderal mendapat tempat yang lapang di sisi Allah SWT.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, ketabahan menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah kehilangan yang begitu besar.
Senin, 2 Maret 2026, menjadi saksi bahwa meski raga sang putra terbaik telah terkubur, api semangat dan ketulusan Try Sutrisno akan tetap menyala, membakar jiwa-jiwa muda yang masih percaya pada masa depan Indonesia. (∗–74M)



































