Minut | Waspada24.com — Di bawah langit malam Desa Minaesa, Talawaan Bajo, deru gerakan fisik dan napas yang teratur memecah kesunyian menunggu waktu sahur, Senin (23/02/26).
Fokus utama warga kali ini tertuju sepenuhnya pada panggung seni bela diri yang menampilkan ketangkasan Perguruan Lam Jalallah.
Tradisi ini bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan sebuah ritual tahunan untuk mempererat silaturahmi masyarakat melalui ketangkasan gerak silat yang estetis namun mematikan.
Sorotan utama jatuh kepada dua sosok sentral, Mustamin Karim dan Kasman Karim.
Kakak beradik ini memperlihatkan dominasi teknik yang matang saat membawakan jurus-jurus khas perguruan mereka.
Di tengah lingkaran warga yang menonton dengan antusias, Mustamin dan Kasman saling beradu tangkis dan serang dalam sebuah eksibisi yang menonjolkan kecepatan tangan serta kekuatan kuda-kuda, membuktikan bahwa kemahiran silat Lam Jalallah masih terjaga murni di tangan mereka.
Permainan silat yang ditampilkan oleh kakak beradik Karim ini membawa narasi tentang “persaudaraan di atas gelanggang”.
Meski tampil dengan intensitas tinggi, setiap gerak tipu dan serangan yang dilancarkan tetap menjunjung tinggi sportivitas dan rasa hormat.
Penonton disuguhi pemandangan teknis bagaimana sebuah serangan dapat diredam dengan kelembutan gerak, sebuah ciri khas dari filosofi bela diri yang mereka anut dalam Perguruan Lam Jalallah.
Kehadiran atraksi silat ini secara efektif mengalihkan rasa kantuk warga menjadi decak kagum, ditambah dengan pukulan gendang yang membangkitkan semangat dua pendekar.
Ketegangan meningkat saat Mustamin dan Kasman melakukan simulasi pertarungan jarak pendek yang menuntut akurasi tinggi.
Bagi warga Minaesa, menyaksikan “permainan” kedua kakak beradik ini adalah melihat warisan identitas yang terus mengalir, di mana setiap ayunan langkah kaki di atas tanah Talawaan Bajo menjadi simbol ketangguhan pemuda desa dalam menjaga marwah budaya.
Sebagai pelengkap suasana, sela-sela pertarungan silat tersebut turut dibumbui dengan kehadiran Bambu Gila yang menambah nuansa mistis di lokasi.
Namun, dominasi teknik bela diri Lam Jalallah tetap menjadi magnet utama hingga menjelang azan subuh.
Melalui konsistensi Mustamin dan Kasman Karim, Desa Minaesa tidak hanya sekadar terjaga untuk bersahur, tetapi juga memastikan bahwa ruh pencak silat tetap hidup dan lestari di sanubari generasi penerusnya. (74M)



































