Hantu Selat Malaka: Jejak Heroik John Lie Menembus Blokade Penjajah

Tamrin L.

- Redaksi

Rabu, 11 Februari 2026 - 23:43 WIB

50258 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Manado, Sulut | Waspada24.com

Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis di atas meja perundingan, tetapi juga di atas gelombang ganas samudera, Kamis (12/02/26).

Salah satu tokoh sentralnya adalah John Lie, atau yang kemudian dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma, seorang putra Manado kelahiran 9 Maret 1911 yang mengukuhkan dirinya sebagai legenda di jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Lahir dari keluarga berada pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio John Lie tidak memilih untuk duduk manis di kursi kepemimpinan perusahaan transportasi milik ayahnya, Vetol.

Panggilan jiwanya adalah laut. Di usia 17 tahun, ia nekat merantau ke Batavia demi mengejar mimpi sebagai pelaut, memulai karier dari bawah sebagai buruh pelabuhan hingga menjadi klerk mualim di perusahaan pelayaran Belanda, KPM.

Misi “The Outlaw”: Penyelundup demi Negara

​Pasca-Proklamasi 1946, John Lie kembali ke tanah air dengan membawa bekal pendidikan militer dari Iran.

Kariernya di Angkatan Laut RI melesat cepat. Bermula dari keberhasilannya membersihkan ranjau Jepang di Cilacap, ia kemudian mengemban misi yang jauh lebih berbahaya: Menembus blokade laut Belanda.

​Dengan kapal cepat berjuluk The Outlaw, John Lie menjalankan operasi “penyelundupan” yang heroik.

Bukan demi keuntungan pribadi, melainkan untuk menjaga denyut nadi ekonomi dan persenjataan republik yang baru lahir.

Komoditas Strategis: Mengangkut karet dan hasil bumi untuk ditukar dengan senjata di Singapura.

Wilayah Operasi: Menjelajahi jalur-jalur maut dari Penang, Bangkok, hingga New Delhi.

Aksi Dramatis: Tercatat sedikitnya 15 kali ia lolos dari maut. Salah satu momen paling ikonik adalah saat The Outlaw dihadang pesawat patroli Belanda di Johor; keberanian dan ketenangannya membuat kapal tersebut luput dari tembakan meski moncong senjata sudah diarahkan ke dek mereka.

Puncak Karier dan Pengabdian Tanpa Batas

​Memasuki era 1950-an, John Lie dipercaya memimpin kapal perang Radjawali.

Perannya krusial dalam memadamkan berbagai gejolak internal yang mengancam integrasi bangsa, termasuk penumpasan pemberontakan RMS di Maluku serta PRRI/Permesta.

​Kecintaan pada negara membuat kehidupan pribadinya seolah “terpinggirkan”. John Lie baru melepas masa lajangnya di usia 55 tahun dengan menikahi Pdt. Margaretha Dharma Angkuw, sesaat sebelum ia pensiun dengan pangkat Laksamana Muda pada Desember 1966.

“Prestasinya tiada tara di Angkatan Laut. Ia adalah panglima armada pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik,”

Ujar Jenderal Besar TNI AH. Nasution dalam sebuah testimoni.

Akhir Hayat Sang Pahlawan

Sang “Hantu Selat Malaka” ini mengembuskan napas terakhirnya pada 27 Agustus 1988 akibat serangan stroke.

Atas dedikasinya yang luar biasa, pemerintah Indonesia menyematkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2009.

Kini, ia beristirahat dengan tenang di Taman Makam Pahlawan Kalibata, meninggalkan warisan keberanian bagi generasi penerus bangsa. (74M)

Berita Terkait

Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Mantan Ketua Komite 1 DPD RI Desak Reformasi Total Imigrasi
Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, DMI Bogor Siap Gelar Gerakan Ekonomi Masjid Preneur
Polda Riau Raih IKPA Terbaik Nasional Kategori Pagu Sedang Di Rakernis Polri 2026
​Kapal Pengangkut Sianida Terdampar di Gorontalo Utara, Polda Buru Pemilik Barang Berinisial LP
​Gubernur Sherly Tjoanda Tinjau Patani Barat: Memulihkan Luka dan Merajut Kembali Fagogoru
DPRD Boyolali Dukung HKPS 2026 dan Munas SWI
Kanwil BPN Kepri, Kanwil Kemenag Kepri dan Kejati Kepri, Teken MoU Optimalisasi Sertipikas Tanah Wakaf
Presiden Prabowo Instruksikan Tanggap Darurat Cepat untuk Sulut dan Maluku Utara

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 20:48 WIB

​Ikhtiar Menambal Kebocoran Solar di Kota Cakalang

Kamis, 4 Juni 2026 - 21:32 WIB

​Evaluasi Kinerja Pemda Harus Adil, Apkasi: Jangan Terjebak Standardisasi Angka

Senin, 1 Juni 2026 - 07:54 WIB

​Kawal Kesejahteraan Warga, Dandim 1310/Bitung Pastikan Jembatan Airmadidi Tuntas Tepat Waktu

Rabu, 27 Mei 2026 - 10:37 WIB

Eksistensi 526 Tahun Wanua Kema Satu: Merajut Keberagaman dan Sinergitas TNI-Rakyat di Minahasa Utara

Selasa, 26 Mei 2026 - 23:18 WIB

KRI Selar-879 Gelar ‘Refreshment Exercise’ Guna Dongkrak Profesionalisme Prajurit Satrol Kodaeral VIII

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:56 WIB

Antisipasi Kriminalitas Malam Hari, Kodim 1310/Bitung Gelar Patroli Skala Besar

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:54 WIB

​TNI dan Warga Bersinergi Bersihkan Jalan Penghubung Kasawari-Makawidey

Jumat, 22 Mei 2026 - 08:46 WIB

​Dituding Muat Berita Sepihak Tanpa Klarifikasi, Tiga Media Siber Disomasi Dansatrol

Berita Terbaru

ACEH TENGGARA

Petani Menjerit Pupuk Langka di Aceh Tenggara

Sabtu, 6 Jun 2026 - 14:54 WIB

SULUT

​Ikhtiar Menambal Kebocoran Solar di Kota Cakalang

Jumat, 5 Jun 2026 - 20:48 WIB