Manado, Sulut | Waspada24.com
Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis di atas meja perundingan, tetapi juga di atas gelombang ganas samudera, Kamis (12/02/26).
Salah satu tokoh sentralnya adalah John Lie, atau yang kemudian dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma, seorang putra Manado kelahiran 9 Maret 1911 yang mengukuhkan dirinya sebagai legenda di jajaran Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).
Lahir dari keluarga berada pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio John Lie tidak memilih untuk duduk manis di kursi kepemimpinan perusahaan transportasi milik ayahnya, Vetol.
Panggilan jiwanya adalah laut. Di usia 17 tahun, ia nekat merantau ke Batavia demi mengejar mimpi sebagai pelaut, memulai karier dari bawah sebagai buruh pelabuhan hingga menjadi klerk mualim di perusahaan pelayaran Belanda, KPM.
Misi “The Outlaw”: Penyelundup demi Negara
Pasca-Proklamasi 1946, John Lie kembali ke tanah air dengan membawa bekal pendidikan militer dari Iran.
Kariernya di Angkatan Laut RI melesat cepat. Bermula dari keberhasilannya membersihkan ranjau Jepang di Cilacap, ia kemudian mengemban misi yang jauh lebih berbahaya: Menembus blokade laut Belanda.
Dengan kapal cepat berjuluk The Outlaw, John Lie menjalankan operasi “penyelundupan” yang heroik.
Bukan demi keuntungan pribadi, melainkan untuk menjaga denyut nadi ekonomi dan persenjataan republik yang baru lahir.
Komoditas Strategis: Mengangkut karet dan hasil bumi untuk ditukar dengan senjata di Singapura.
Wilayah Operasi: Menjelajahi jalur-jalur maut dari Penang, Bangkok, hingga New Delhi.
Aksi Dramatis: Tercatat sedikitnya 15 kali ia lolos dari maut. Salah satu momen paling ikonik adalah saat The Outlaw dihadang pesawat patroli Belanda di Johor; keberanian dan ketenangannya membuat kapal tersebut luput dari tembakan meski moncong senjata sudah diarahkan ke dek mereka.
Puncak Karier dan Pengabdian Tanpa Batas
Memasuki era 1950-an, John Lie dipercaya memimpin kapal perang Radjawali.
Perannya krusial dalam memadamkan berbagai gejolak internal yang mengancam integrasi bangsa, termasuk penumpasan pemberontakan RMS di Maluku serta PRRI/Permesta.
Kecintaan pada negara membuat kehidupan pribadinya seolah “terpinggirkan”. John Lie baru melepas masa lajangnya di usia 55 tahun dengan menikahi Pdt. Margaretha Dharma Angkuw, sesaat sebelum ia pensiun dengan pangkat Laksamana Muda pada Desember 1966.
“Prestasinya tiada tara di Angkatan Laut. Ia adalah panglima armada pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik,”
Ujar Jenderal Besar TNI AH. Nasution dalam sebuah testimoni.
Akhir Hayat Sang Pahlawan
Sang “Hantu Selat Malaka” ini mengembuskan napas terakhirnya pada 27 Agustus 1988 akibat serangan stroke.
Atas dedikasinya yang luar biasa, pemerintah Indonesia menyematkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2009.
Kini, ia beristirahat dengan tenang di Taman Makam Pahlawan Kalibata, meninggalkan warisan keberanian bagi generasi penerus bangsa. (74M)



































