Halmahera | Waspada24.com – Di atas batu-batu sungai yang dialiri air jernih Maluku Utara, sebuah cetakan kaki raksasa menorehkan sejarah yang tak lekang oleh waktu.
Bagi masyarakat suku Tobaru, ceruk besar itu bukan sekadar kikisan alam. Ia adalah bukti fisik dari sebuah epik masa lalu, jejak ketangguhan Toguuwa Ma Lamo, seorang lelaki asal tanah Minahasa yang datang dan kemudian bertakhta di hati rakyat Halmahera.
Kisah ini bermula jauh di barat, di seberang lautan yang memisahkan Sulawesi dan Maluku. Di sebuah lembah subur Minahasa yang dikelilingi kepulan asap gunung berapi, lahir seorang bayi lelaki. Sejak tangisan pertamanya menggema, alam seolah telah menandai bahwa bocah ini bukanlah manusia biasa.
Pertumbuhan fisiknya mencengangkan cetak biru manusia pada umumnya. Tubuhnya menjulang tinggi menembus batas normal, ditopang oleh otot-otot kekar yang liat. Orang-orang mengaguminya, sekaligus menaruh rasa segan yang teramat dalam melihat proporsi tubuh sang pemuda.
Melihat keunikan tersebut, sebuah nama disematkan kepadanya: Toguuwa. Dalam bahasa lokal, nama itu membawa doa sekaligus nubuat yang berarti “tak dapat dihentikan”. Sebuah manifestasi dari karakter gigih yang kelak membentuk garis takdir hidupnya.
Di kemudian hari, masyarakat menambahkan gelar “Ma Lamo” di belakang namanya. Kata yang berarti “besar” atau “agung” ini melengkapi identitasnya.
Gelar tersebut menegaskan posisinya sebagai figur yang memiliki pengaruh masif bagi orang-orang di sekitarnya.
Namun, kedigdayaan Toguuwa tidak tumbuh di ruang hampa. Di balik bayang-bayang tubuh raksasanya, berdiri seorang perempuan paruh baya bernama Burulati. Ia adalah ibu kandung Toguuwa, sosok yang memegang peranan krusial dalam membentuk arah hidup sang kesatria.
Burulati dikenal sebagai entitas spiritual yang berjalan di bumi. Matanya yang tajam seakan mampu menembus tabir masa depan, sementara hatinya selaras dengan denyut nadi alam semesta. Di tanah Minahasa, ia disegani sebagai penasihat spiritual yang memiliki kedalaman ilmu mumpuni.
Kombinasi antara keduanya adalah harmoni yang sempurna. Jika Toguuwa melambangkan aspek kekuatan fisik yang maskulin dan mendominasi, maka Burulati adalah manifestasi dari energi feminin yang menenangkan, sebuah jangkar kebijaksanaan yang menjaga agar kekuatan putranya tidak menjadi destruktif.
Hingga pada suatu malam, sebuah petunjuk gaib merayap masuk ke dalam sanubari mereka. Bisikan mistis itu meminta mereka mengemas pakaian dan menghadap ke arah matahari terbit.
Takdir tampaknya telah menggariskan bahwa masa depan mereka tidak lagi berada di tanah Minahasa.
Tanpa ragu, ibu dan anak ini memulai migrasi besar. Mereka menaiki sebuah perahu kayu, memunggungi pantai Minahasa, dan mengarahkan haluan menembus bentangan samudra yang luas demi menuju sebuah pulau misterius di ufuk timur.
Perjalanan melintasi laut lepas itu berubah menjadi ujian bertahan hidup yang ekstrem.
Gelombang raksasa berkali-kali menghantam dinding perahu, sementara badai topan mencoba menghempaskan mereka ke dalam palung laut yang gelap. Makhluk-makhluk laut misterius pun kerap menampakkan diri.
Dalam situasi kritis tersebut, kerja sama mereka kembali teruji. Toguuwa menggunakan otot-otot raksasanya untuk mencengkeram kemudi perahu, melawan arus air yang bertenaga ribuan daya kuda. Ia menjadi benteng fisik yang menjaga perahu tetap stabil di atas ombak.
Di sudut perahu, Burulati duduk bersila dengan kekhusyukan penuh. Mulutnya merapalkan doa-doa kuno, memanggil kekuatan kosmik untuk menenangkan alam yang sedang mengamuk. Perlahan namun pasti, amarah laut mereda di bawah pengaruh magis doa sang ibu.
Setelah bertarung berhari-hari melawan maut, pandangan mereka akhirnya membentur garis pantai yang eksotis.
Pasir hitam khas vulkanik membentang luas, menyambut kedatangan mereka di bumi Halmahera. Pohon-pohon kelapa melambai ditiup angin, di balik rimbunnya hutan hujan tropis.
Kedatangan dua orang asing ini langsung memicu kegemparan di kalangan penduduk asli Halmahera.
Saat itu, daratan tersebut dihuni oleh Suku Tabaru Nyeku, yang terbagi dalam beberapa sub-etnis: Togotoaka di tepi danau, SangajiNyeku di aliran sungai Tongapaso, komunitas di sungai Todode, serta Tuguis yang mendiami hutan Diai.
Masyarakat lokal yang terbiasa hidup bersahaja terperangah melihat visualisasi kedua pendatang baru tersebut.
Toguuwa berdiri kokoh di pesisir dengan mengenakan pakaian adat ksatria Minahasa. Tunik merah berukir tersemat di tubuhnya, kontras dengan tombak kayu berukir mistis di genggamannya.
Di sebelahnya, Burulati berdiri dengan keanggunan yang magis. Ia mengenakan kebaya Wuyang tradisional dipadu kain sarung, lengkap dengan untaian manik-manik dan jimat penolak bala yang bergelantungan.
Penampilan mereka langsung mengintimidasi sekaligus mengundang decak kagum.
Adaptasi tidak memerlukan waktu lama bagi keduanya. Toguuwa dengan cepat mencuri perhatian lewat aksi-aksi fisiknya yang di luar nalar manusia biasa.
Ia kerap membantu warga memindahkan bongkahan batu besar penutup jalan hanya dengan tangan kosong, menyisakan jejak kaki raksasa di tanah yang ia pijak.
Bukan hanya soal otot, Toguuwa juga turun tangan saat masyarakat didera ketakutan akibat “Bobaku” makhluk atau fenomena yang diyakini warga lokal sebagai pembawa wabah penyakit mematikan.
Dengan keberaniannya, Toguuwa berhasil menaklukkan ancaman tersebut dan membebaskan warga dari cengkeraman epidemi.
Di sisi lain, Burulati menjelma menjadi oase bagi masyarakat yang sakit dan bertikai.
Menggunakan pengetahuannya tentang flora hutan Halmahera, ia meracik obat-obatan herbal untuk menyembuhkan penyakit kronis. Ia juga bertindak sebagai hakim yang adil dalam menyelesaikan sengketa antarwarga.
Reputasi ibu dan anak ini pun menggelinding bak bola salju, menyebar dari satu ceruk kampung ke kampung lainnya. Mereka tidak lagi dipandang sebagai orang asing dari seberang lautan, melainkan sebagai sosok pelindung dan pembawa berkah bagi kelangsungan hidup suku.
Melihat dampak nyata tersebut, para momole atau tetua adat dari berbagai sub-etnis Halmahera berkumpul.
Dalam sebuah musyawarah besar yang sakral, mereka mencapai mufakat bulat: mengangkat Toguuwa Ma Lamo dan Burulati sebagai pemimpin tertinggi kedigdayaan Suku Tobaru.
Pemerintahan duet ini membawa Suku Tobaru masuk ke dalam era keemasan. Toguuwa memimpin garis depan, menjadi perisai hidup yang melindungi wilayah dari serangan luar.
Sementara Burulati mengendalikan urusan domestik dan spiritual, memastikan setiap kebijakan adat selaras dengan hukum alam.
Hingga akhir hayatnya, Toguuwa Ma Lamo memilih jalan hidup yang sunyi dalam hal asmara.
Catatan lisan menegaskan bahwa sang pemimpin agung tidak pernah menikah dan tidak meninggalkan garis keturunan langsung.
Ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada rakyat yang dipimpinnya.
Meski raganya telah tiada, warisan spiritual dan fisiknya tetap terjaga. Jejak kaki raksasanya di tepi sungai masih menjadi situs yang dihormati.
Sementara sang ibu, Burulati, meninggalkan warisan berupa tanaman bambu (Ge’eri) di sekitar sungai Ira, yang hingga kini berfungsi sebagai tapal batas abadi antara wilayah suku Tobaru dan Galela.
Kini, memori tentang kejayaan masa lalu itu diyakini tersimpan rapi dalam bentuk artefak peninggalan Toguuwa yang dirawat oleh keturunan almarhum Lawango Gomoi di wilayah Sangaji Nyeku.
Sebuah narasi sejarah yang membuktikan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari perpaduan kekuatan fisik dan ketulusan hati. (74M)



































