gambar ilustrasi
Waspada24.com — Lampu-lampu masjid mulai berpendar lebih lama saat kalender Hijriah memasuki tikungan terakhirnya, Kamis 5 Maret 2026.
Di sepertiga malam yang sunyi, jutaan kening bersujud, memburu sebuah janji yang lebih tua dari peradaban manusia: Lailatul Qadar.
Bagi umat Islam, malam ini bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah anomali spiritual.
Di sana terpacak sebuah kemuliaan yang diklaim melampaui durasi seribu bulan sebuah hitungan matematis yang setara dengan rentang usia 83 tahun manusia.
Kehadirannya tetap menjadi teka-teki ilahi yang tak terpecahkan oleh teleskop manapun.
Namun, justru dalam ketidakpastian itulah, letak romansa ibadah yang paling dalam, di mana iman diuji melalui kesabaran dan pencarian yang konsisten.
Sejarah mencatat, Rasulullah SAW memberikan kompas bagi para pencari malam mulia ini.
Dalam narasi yang diriwayatkan Imam Bukhari, beliau menitahkan umatnya untuk menyisir sepuluh hari terakhir Ramadhan, atau setidaknya jangan sampai luput pada tujuh hari sisanya.
Gaya hidup sang Nabi pun berubah drastis saat fajar kesepuluh terakhir mulai membayang.
Aisyah RA mengisahkan bagaimana suaminya itu mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam dengan ruku dan sujud, serta membangunkan keluarganya untuk larut dalam kekhusyukan.
Ada sebuah fragmen mengharukan yang terekam dalam ingatan kolektif para sahabat tentang satu malam di penghujung Ramadhan.
Saat itu, masjid bukan lagi sekadar bangunan, melainkan gelanggang pertemuan antara hamba dan Penciptanya.
Di bawah naungan langit yang mulai mendung tanpa bintang, Rasulullah berdiri memimpin shalat.
Di belakangnya, barisan sahabat mengikuti setiap gerak, mengaminkan setiap doa yang membumbung ke langit yang kelam.
Angin malam menusuk celah-celah jubah, menyapu tubuh-tubuh yang tegak dalam iktikaf.
Riwayat menyebutkan saat itu adalah malam ke-27, sebuah momentum di mana atmosfer spiritual terasa begitu pekat dan berat.
Tepat saat dahi-dahi bersentuhan dengan bumi, langit pecah. Hujan turun dengan derasnya, mengguyur masjid yang saat itu tak memiliki atap yang mampu membendung amukan air dari langit.
Lantai masjid berubah menjadi kubangan. Tanah dan air menyatu, namun tak ada satu pun ruku yang goyah.
Di tengah guyuran air, sebuah ujian kesetiaan sedang berlangsung di bawah gelapnya malam.
Seorang sahabat sempat terbersit keinginan untuk membatalkan shalat demi mencari tempat berteduh.
Namun, niat itu luruh seketika saat ia melirik ke arah depan: sang Nabi tetap diam, mematung dalam sujud yang dalam.
Pakaian Rasulullah basah kuyup, air hujan merembes hingga ke kulit, namun beliau tak bergeming.
Seolah-olah raga itu tertinggal di bumi, sementara jiwanya sedang bertamasya di alam yang jauh melampaui segala materi.
Para sahabat menyaksikan sebuah pemandangan transendental. Nabi tampak sedang tenggelam dalam samudera cahaya Ilahi, sebuah keindahan yang membuatnya takut untuk sekadar mengangkat kepala dan mengakhiri sujudnya.
Keheningan itu berlangsung lama, meski raga mulai menggigil diterjang hawa dingin dan kelembapan.
Mereka bertahan dalam diam, seolah sepakat bahwa dinginnya air hujan adalah harga yang murah untuk sebuah perjumpaan dengan malam seribu bulan.
Begitu salam diucapkan dan shalat berakhir, sebuah keajaiban kecil terjadi: hujan berhenti seketika. Alam seakan ikut terdiam, memberikan ruang bagi para hamba untuk menghirup aroma tanah basah pasca-ibadah.
Anas bin Malik, dengan penuh kasih, bergegas hendak mengambilkan pakaian kering untuk sang Nabi.
Namun, tangan Rasulullah mencegahnya dengan sebuah kalimat yang filosofis:
“Biarkan kita sama-sama basah, nanti pun akan kering dengan sendirinya.”
Kisah sujud di tengah hujan ini menjadi pengingat bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar soal hitungan pahala, melainkan tentang keteguhan hati.
Di sisa Ramadhan ini, pintu-pintu langit masih terbuka bagi siapa saja yang bersedia “basah” dalam pencarian Tuhan. (74M)































